Showing posts with label Religi. Show all posts
Showing posts with label Religi. Show all posts

August 27, 2009

Neraka Menurut 7 Agama

Terlepas dari benar atau tidaknya masalah dibawah ini gw cuma pengen posting aja karena menurut gw ini cukup menarik...
tapi cukup satu yang harus kita yakini yaitu bahwa neraka itu benar-benar ada dan jika kita tidak beriman dan bertakwa maka bersiaplah menghadapi derita yang tiada akhir.


Hampir semua gambar dan teks di bawah ini diambil dari blog Weekly World News. Neraka agama apa yang menurutmu paling menakutkan, paling kejam dan paling sadis hukumannya?
Gambar lukisan neraka versi 7 agama


1. Agama Kristen — Neraka dalam versi ajaran agama Kristen adalah di mana tubuh pendosa akan dibakar selama-lamanya dalam api abadi yang takkan pernah padam.


Neraka versi Kristen


2. Agama Jain — Agama asli orang India. Disebutkan bahwa agama ini memiliki versi neraka paling banyak: sampai 8 juta lebih jenisnya.


Neraka versi Jain


3. Agama Islam — Ditulis, manusia kelak harus melewati sebuah jembatan kecil bila ingin menuju surga. Kalau tidak berhasil, dia akan terjatuh dan masuk ke api neraka Jahannam.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” — At-Tahrim [66]:6 [Wikipedia]


Neraka versi Islam


4. Agama Hindu — Pada akhirnya setiap manusia akan mengalami reinkarnasi; dia akan kembali hidup di bumi tetapi dalam wujuh tubuh manusia lain atau hewan. Sebelum reinkarnasi, manusia harus lebih dulu melewati hukuman neraka dari 21 macam jenisnya.


Neraka agama Hindu


5. Agama Buddha — Mempunyai 15 jenis neraka, dan tujuh diantaranya adalah neraka api.


Neraka versi Buddha


6. Agama Taoisme — Percaya bahwa neraka sebenarnya ada di dalam kuil itu sendiri, tapi di sana ada iblis-iblis yang siap menerkam para manusia pendosa dengan senjata tajam.


Neraka versi Taoisme


7. Agama Judaisme — Yahudi Ortodox percaya di neraka kelak tubuh manusia pendosa akan direbus atau dikuliti.


Neraka agama Yahudi

August 25, 2009

Nyanyian Neraka

Oleh:

Dr. H. Rusli Hasbi, MA

Dosen Ushul Fiqh Fakultas Dirasah Islamiyyah UIN Jakarta



Kajian kali ini tentang betapa berat dan keras siksaan neraka yang dipersiapkan Allah untuk orang-orang yang ingkar dan membangkang Allah dan Rasul-Nya.
  • Kapasitas dan Volume Neraka
Neraka memiliki daya tampung yang sangat besar. Jika seluruh penduduk bumi dimasukkan ke dalamnya, maka hal itu tidak akan membuat daya tampungnya berkurang. Hal ini sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur’an:

يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ

Artinya: “(Dan ingatlah akan) hari (ketika) Kami bertanya kepada neraka, “Apakah kamu sudah penuh?” Dia menjawab, “Masih adakah tambahan lagi?” (QS Qaf[50]: 30)
Kalau begitu Jahannam itu haus kepada para penjahat dunia. Dalam hadits juga disebutkan tentang volume neraka yang hanya dapat ditembus dengan rentang waktu yang sangat panjang.
  • Ukuran dan Berat Neraka Jahannam
Hadits berikut memberikan kita gambaran tentang ukuran neraka Jahannam:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا. (رواه مُسْلِمٌ)

Artinya: Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata ”Rasulullah SAW bersabda: “Pada hari kiamat neraka Jahannam itu akan didatangkan dengan menggunakan 70 ribu kendali (tali kekang). Tiap-tiap kendali ditarik oleh 70 ribu malaikat”. (HR Muslim)
Hadits ini shahih. Neraka Jahannam akan didatangkan, dibawa atau digotong dengan 70 ribu kendali. Setiap kendali ditarik oleh 70 ribu malaikat. Jika kita kalikan 70.000 kendali dengan 70.000 malaikat maka kita ketahui bahwa 4.900.000.000 (empat milliar sembilan ratus juta) malaikat akan bekerja menarik neraka Jahannam. Sebagai perbandingan, dalam hadits shahih lainnya matahari yang ada di dunia ini (yang dikenal paling besar dalam tata surya) ditarik delapan malaikat saja.
Berdasarkan nash di atas, kita dapat pahami bahwa Jahannam itu bukanlah neraka yang mudah untuk dihadirkan. Ia adalah neraka paling ganas, paling luas dan berat sehingga untuk mendatangkannya dibutuhkan waktu, tenaga, dan kerja keras para malaikat. Neraka Jahannam dipersiapkan sebagai tempat untuk menghukum para penjahat dunia, yaitu mereka yang melanggar peraturan Allah dan tidak mengindahkan larangan-Nya.
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Ketika kami sedang bersama-sama Rasulullah SAW tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Beliau bertanya, “Apakah kamu tahu bunyi apakah ini?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Ini adalah suara batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun yang lalu. Batu itu baru sampai ke dasar neraka, maka kalian mendengar suara gemuruhnya”. (Muttafaqun ‘Alaihi)
Diperlukan waktu selama 70 tahun untuk bisa menembus dasar neraka Jahannam. Terbayangkah oleh kita kapasitas dan volume yang sebenarnya dari neraka? Hanya Allah-lah yang memiliki pengetahuan tentang itu.


  • Temperatur Api Neraka

وعن النعمان بن بشير رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال سمعت رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يقول: إن أهون أهل النار عذاباً يوم القيامة لرجل يوضع في أخمص قدميه جمرتان يغلي منهما دماغه، ما يرى أن أحداً أشد منه عذاباً وإنه لأهونهم عذابا.(متفق عَلَيْهِ)

Artinya: Dari Nu’man bin Basyir ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seringan-ringan siksa ahli neraka pada hari kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat tidak ada seorang pun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi ahli neraka”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak ada yang sanggup mengukur temperatur neraka. Hanya Allah yang Mahatahu. Kalau ditaruh di bawah kedua telapak kaki saja bara api neraka bisa mendidihkan otak manusia, bagaimana pula rasanya kalau kita dimasukkan langsung ke dalam lautan api tersebut. Wa’iyazubillah. Suhu api dunia tidak akan pernah menyamai panasnya api neraka. Sumber api dunia berasal dari bagian kecil dari bara api neraka yang sudah melalui proses pendinginan yang panjang. Sebelum diturunkan ke dunia, bara api tersebut direndam terlebih dahulu di tujuh lautan selama tujuh hari tujuh malam. Setelah apinya padam dan menjadi dingin, baru bara tersebut diturunkan ke dunia untuk kebutuhan umat manusia. Coba bayangkan kalau kita disiksa di dalam lautan api neraka dengan temperatur aslinya (tanpa proses pendinginan) .


  • Siksaan Sesuai dengan Tingkat Kesalahan

عن سمرة بن جندب رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أن نبي اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قال: منهم من تأخذه النار إلى كعبيه، ومنهم من تأخذه إلى ركبتيه، ومنهم من تأخذه إلى حجزته، ومنهم من تأخذه إلى ترقوته. (رواه مُسْلِمٌ)

Artinya: Dari Samurah bin Jundub ra. ia berkata: Nabi SAW bersabda, “Di antara ahli neraka ada yang disiksa dengan api sebatas mata kakinya, sebatas kedua lututnya, sebatas pusarnya dan ada pula yang disiksa dengan api sebatas bahunya”. (HR.Muslim)
Siksaan yang ditimpakan kepada ahli neraka bervariasi sesuai dengan tingkat kesalahan atau besaran dosa yang dilakukan semasa di dunia. Batasan minimalnya adalah tumit, kemudian lutut, lalu pusar, dan yang terakhir adalah bahu. Bagi pelaku kesalahan ringan, Allah akan membakarnya sampai ke tumit. Bagi pelaku kejahatan yang lebih berat, seperti penzina, pembunuh, penyebar fitnah, pencuri, pemerkosa, maka Allah akan menghukumnya dengan siksaan yang lebih berat pula. Semua ahli neraka akan disiksa sesuai tingkat kesalahannya. Tetapi kenapa kepala ditinggalkan dan luput dari siksaan? Kepala disisakan untuk dapat merasakan pedih dan sakitnya azab Allah tersebut, untuk berfikir dan menyesali apa yang telah diperbuat selama di dunia. Coba bayangkan, bara api kecil di bawah telapak kaki, ringan, sebesar biji sawi, dapat mendidihkan otak kita. Bagaimana kalau kita dibakar sampai ke tumit, lutut, pusar bahkan bahu? Hadits yang meriwayatkan tentang hal ini bukanlah hadits palsu. Hadits ini benar dan kuat.

  • Tahap Awal Azab (sebelum diadili)

عن ابن عمر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قال: يقوم الناس لرب العالمين حتى يغيب أحدهم في رشحه إلى أنصاف أذنيه (متفق عَلَيْهِ)

Artinya: Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Di kala manusia berdiri menunggu panggilan Tuhan semesta alam, ada salah seorang di antara mereka yang terbenam dalam keringatnya sampai pada kedua daun telinganya”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Pada waktu manusia berdiri dalam antrian menunggu panggilan Tuhan semesta alam, ada salah seorang di antara mereka yang terbenam dalam keringatnya sampai kedua daun telinganya. Mereka semua berdiri menunggu panggilan Allah yang akan menentukan nasibnya, apakah masuk surga atau dilempar ke dalam neraka. Semua manusia dalam kondisi bercampur-baur (laki-laki, perempuan, kulit hitam, kulit putih) semua dalam kondisi sibuk memikirkan nasib dirinya sendiri.
Tetapi di saat yang sama akan terlihat dua pemandangan yang berbeda. Ada yang tersenyum dengan wajah berseri-seri dan ada pula yang wajahnya tertunduk dengan penuh kehinaan. Kelompok pertama adalah mereka yang beriman dan beramal shaleh di dunia dan yakin bahwa syurgalah tempat mereka kembali. Kelompok kedua adalah mereka yang semasa di dunia sibuk dengan kemaksiatan. Kelompok kedua begitu takut, sedih dan malu karena mereka sudah diisyaratkan oleh Allah menuju neraka Jahannam. Keringat mereka meliputi diri mereka sehingga ada yang tenggelam bersama keringat mereka sendiri.
Allah berfirman dalam surat ‘Abasa ayat 33-42:

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّة(33) ُيَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيه(34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ(35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ(36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37) وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ(38) ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ(39) وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ(40) تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ(41) أُولَئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ(42)

Artinya: Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan bergembira ria. (Dan) banyak (pula) muka pada hari itu tertutup oleh debu dan kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka’. (QS.’Abasa [80]: 33-42)


Kesimpulan
Tidak ada jalan keluar bagi kita untuk menghindari siksaan neraka kecuali dengan tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Apapun kesibukan kita di dunia, bagaimanapun kondisi kita saat ini, hanya kepada-Nyalah kita wajib mendekatkan diri. Faktor kemiskinan, kekayaan, jabatan, usia, dan kondisi rumah tangga bukan penghalang untuk dekat dan beribadah kepada-Nya. Bagi orang yang tidak mampu mengerjakan banyak ibadah, seperti tidak sanggup bangun malam, tidak bisa banyak beristighfar, tidak mampu berlama-lama dalam shalat, ataupun tidak sempat memperbanyak bacaan Al-Quran, mereka hendaknya mengerjakan semua itu sesuai kemampuan dengan terus memperkecil porsi kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan saja sudah merupakan ibadah. Begitu juga kalau kita tidak mampu berinfak dengan harta. Berikan tenaga ataupun pemikiran. Sekecil apapun manfaat yang kita sebarkan akan membuat kita mengisi kehidupan ini dengan kebaikan.
Selanjutnya bersyukurlah karena kita masih diberi kesempatan bertaubat oleh Allah. Kalau mungkin kita punya kesalahan, mungkin dulu kita tidak tahu, bertaubatlah secepatnya. Bentuklah diri kita menjadi contoh teladan bagi keluarga, kerabat, dan masyarakat. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, menghapuskan segala dosa kita dan menjauhkan kita dari siksaan neraka. Amin…. (48/e)

August 23, 2009

Mukjizat dibalik BISMILLAH :



السلام عليكم ورحمة الله وبركاته



BISMILLAH adalah sebutan/nama singkat dari lafaz 'BISMILLAHIR ROHMAANIR ROHIIM' yang berarti 'Dengan nama ALLAH Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.'



KEISTIMEWAAN BISMILLAH

1. Ditulis Qalam adalah BISMILLAH. Maka apabila kamu menulis sesuatu, maka tulislah BISMILLAH pada awalnya karena BISMILLAH tertulis pada setiap wahyu yang Allah turunkan kepada Jibrail.

2. 'BISMILLAH untukmu dan umahmu, suruhlah mereka apabila memohon sesuatu dengan BISMILLAH. Aku tidak akan meninggalkannya sekejap mata sejak BISMILLAH diturunkan kepada Adam.' (Hadith Qudsi)



3. Tatkala BISMILLAH diturunkan ke dunia, maka semua awan berlari ke arah barat, angin terdiam, air laut bergelora, mendengarkan seluruh binatang dan terlempar semua syaitan.



4. Demi Allah dan keagunganNya, apabila BISMILLAH itu dibacakan pada orang sakit akan menjadi obat untuknya dan apabila BISMILLAH dibacakan di atas sesuatu melainkan Allah beri berkat ke atasnya.



5. Barangsiapa yang ingin hidup bahagia dan mati syahid, maka bacalah BISMILLAH setiap kali memulai sesuatu perkara yang baik.



6. Jumlah huruf dalam BSMILLAH ada 19 huruf dan malaikat penjaga neraka ada 19 ( QS.ALMuddatsir: 30).Ibnu Mas'ud berkata: 'Barang siapa yang ingin Allah selamatkan dari 19 malaikat neraka maka bacalah BISMILLAH 19 kali setiap hari.'



7. Tiap huruf BISMILLAH ada JUNNAH (penjaga/khadam) hingga tiap huruf berkata, 'Siapa yang membaca BISMILLAH maka kamilah kekuatannya dan kamilah kehebatannya. '



8. Barangsiapa yang memuliakan tulisan BISMILLAH niscaya Allah akan mengangkat namanya di syurga yang sangat tinggi dan diampunkan segala dosa kedua orang tuanya.



9. Barangsiapa yang membaca BISMILLAH maka akan bertasbihlah segala gunung kepadanya.



10. Barangsiapa yang membaca BISMILLAH sebanyak 21 kali ketika hendak tidur, maka akan terpelihara dari gangguan syaitan, kecurian dan kebakaran, maut mendadak dan bala.



11. Barangsiapa yang membaca BISMILLAH sebanyak 50 kali di hadapan orang yang zalim, hinalah dan masuk ketakutan dalam hati si zalim serta naiklah keberanian dan kehebatan kepada si pembaca.

BISMILLAH adalah sebutan/nama singkat dari lafaz 'BISMILLAHIR ROHMAANIR ROHIIM' yang berarti 'Dengan nama ALLAH Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.'



Amal yang Membuka Pintu Surga

Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih awal menjelang ashar.

Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena keperluan di rumah makin besar. Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun." Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta'ala." "Terima kasih," jawab Ali. Matanya memberat lantaran isterinya begitu tawakal. Padahal keperluan dapur sudah habis sama sekali. Walau demikian Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.

Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan shalat berjamaah. Sepulang dari shalat, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?" Ali menjawab dengan heran. "Ya betul. Ada apa, Tuan?". Orang tua itu mencari kedalam kantongnya sesuatu seraya berkata: "Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar upahnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya." Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.

Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.

Ali pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, "Siapakah yang mau menghutangkan hartanya karena Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan." Tanpa berfikir panjang, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.

Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya. Fatimah, masih dalam senyum, berkata, "Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta karena Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan yang menutup pintu syurga untuk kita."

AIRMATA di Hari Lebaran

Matahari baru saja terbit. Gema suara takbir yang bersahutan sejak tadi sore semakin jelas terdengar dari corong-corong masjid. Orang-orang dengan

pakaian bagus bergegas memasuki sebuah mesjid besar di salah satu jalan

di Jakarta. Kebanyakan mereka memakai busana Muslim dengan kepala ditutupi kopiah. Selembar sajadah terselempang di pundak mereka.

Sebagian wanita tampak sudah memakai mukena sejak berangkat dari rumah.

Sebagian lainnya berpakaian kebaya sambil menjinjing mukena dan sajadah.

Anak-anak tidak lupa dibawa serta.

Meskipun sebagian besar jamaah berjalan kaki, namun tidak sedikit diantara

mereka yang datang ke masjid itu berkendaraan, baik sepeda motor maupun

mobil.Kebanyakan mobil-mobil yang datang dipenuhi oleh seluruh anggota keluarga.

Perasaan gembira tampak jelas pada wajah-wajah mereka yang penuh senyum.

Maklumlah, hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri, hari kemenangan umat

Islam, setelah satu bulan lamanya mereka menjalankan ibadah Ramadhan.

Suara takbir semakin menggema. Jamaah semakin padat memenuhi ruangan

masjid yang luas itu. Sebagian mulai tampak membanjiri teras masjid

karena bagian dalam masjid sudah penuh. Sebentar saja, teras pun penuh terisi jamaah.

Beberapa anak kecil memanfaatkan kesempatan itu untuk menawarkan koran

bekas kepada jamaah yang baru datang. Di Jakarta, apa pun bisa dijual,

tak peduli di hari raya seperti ini.

Bukan hanya anak-anak penjaja koran bekas saja yang sedikit "mengganggu

pemandangan"(tm) pagi itu. Beberapa pengemis pun tampak berjejer di depan

gerbang masjid menyambut para jamaah dengan menyodorkan baskom plastik.

Beberapa diantara mereka menggendong bayi yang masih mungil.

Seorang anak laki-laki dengan wajah kusut dan pakaian yang masih kotor

terlihat berdiri di depan gerbang. Sebut saja namanya Husein. Usianya

sekitar tujuh tahun. Ragu-ragu ia memasuki gerbang masjid.

Ia tahu kalau hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri, sehingga ia ingin

masuk ke dalam masjid untuk ikut merayakannya dengan sholat Id. Akan

tetapi ia juga sadar kalau keadaan dirinya yang kusut dan tak terurus itu

bisa menjadi pusat perhatian jamaah lain yang berpakaian rapi.

Husein memang mematung di depan gerbang. Beberapa rombongan jamaah yang hendak masuk ke masjid menyadarkan dirinya untuk segera menyingkir dan memberi jalan kepada mereka. Anak itu segera menepi. Diurungkan niatnya untuk masuk ke gerbang masjid.

Kini ia sandarkan tubuhnya di pagar besi yang mengelilingi masjid. Dari

pagar itu ia bisa melihat bagaimana ramainya suasana halaman masjid oleh

para jamaah dengan pakaian baru aneka warna. Anak-anak seusianya tampak

duduk bersila di samping orang tua mereka dengan baju baru, kain sarung

baru dan peci yang juga baru. Kontras sekali dengan dirinya yang lusuh

oleh debu dan pakaian yang kotor.

Terbayang dalam ingatannya ketika tahun-tahun lalu ia masih bisa menikmati

suasana lebaran yang penuh kebahagiaan bersama kedua orang tuanya.

Pagi-pagi, ia sudah dibangunkan oleh tangan lembut ibunya. Terdengar suara

takbir dari masjid dekat rumahnya. Kue-kue dan ketupat tersaji di meja

makan. Ia dan anak-anak seusianya tidak lupa ikut orang tua mereka sholat

dimasjid atau tanah lapang.Tawa canda tampak dari mereka setiap kali

bertemu. Mereka seolah saling memperlihatkan baju baru yang mereka pakai.

Tapi itu dua tahun lalu, ketika kedua orang tuanya masih berada di

sisinya. Sebab beberapa bulan selepas kenangan manis itu, kedua orang

tuanya harus bercerai. Sebagai seorang anak kecil, ia tidak mengerti

mengapa kedua orang tuanya harus bercerai, sehingga ia harus menjadi

korban dari sikap egoisme kedua orang tuanya.

Beberapa bulan kemudian , ia masih bisa merasakan kasih sayang ibunya ,

meski tidak tahu lagi kemana ayahnya pergi. Tetapi lewat tiga bulan dari

perceraian kedua orang tuanya, ibunya terpaksa kawin lagi dengan lelaki

lain. Parahnya, lelaki itu juga membawa ibunya pergi ke Jakarta. Konon,

ayah tirinya itu punya pekerjaan di Jakarta meskipun hanya sebagai pekerja kasar.

Husein sendiri dititipkan kepada neneknya dari pihak ibu. Maklumlah sejak

menikah, ayah dan ibunya memang menumpang di rumah neneknya itu. Karena

itu, Husein sudah dekat dengan sang nenek meskipun tetap saja ia merasakan

kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Kalau saja ia besar, ia ingin

sekali meninggalkan neneknya dan pergi ke Jakarta untuk menyusul kedua orang tuanya.

Sebenarnya, neneknya sendiri tidak memiliki penghasilan yang memadai.

Diusianya yang sudah uzur, ia terpaksa menghidupi dirinya dan cucunya dengan

kerja serabutan. Kadang ia masih ikut menjadi kuli di sawah atau kerja apa

saja yang bisa mendatangkan sesuap nasi bagi dirinya bersama cucunya.

Husein sendiri kerap kali membantu neneknya. Ibunya yang konon ikut

suaminya ke Jakarta tidak kunjung kabar beritanya. Jangankan mengirimkan

uang untuk mereka, mengirimkan kabar saja tidak pernah.

Sampai akhirnya derita yang harus ditanggung Husein mencapai puncaknya

ketika minggu lalu sang nenek pun akhirnya pergi untuk selama-lamanya.

Neneknya meninggal dunia setelah dua hari menderita sakit. Para tetangga

berusaha mencari alamat ibunya untuk mengabari perihal kematian neneknya

itu. Tetapi tak satu pun yang tahu dimana alamat ibu Husein berada.

Akhirnya jenazah sang nenek terpaksa dimakamkan tanpa kehadiran anak

perempuan satu-satunya itu.

Selepas neneknya meninggal, beberapa saudara jauh dari neneknya mencoba

merayu Husein agar mau tinggal di rumah mereka. Akan tetapi Husein

tampaknya tidak bisa menerima kebaikan hati mereka. Mungkin ia merasa

kurang mengenal mereka.

Maklumlah mereka memang saudara jauh yang jarang datang ke rumah neneknya.

Akhirnya, satu hari setelah kematian neneknya, Husein nekad pergi

meninggalkan kampung halamannya. Dengan bekal seadanya, ia pergi ke

Jakarta untuk mencari ibunya. Ia sendiri tidak pernah membayangkan seperti

apa sesungguhnya kota Jakarta. Ia memang pernah melihatnya, tetapi hanya

lewat sinetron di televisi.

Husein pergi ke Jakarta dengan menumpang beberapa kendaraan. Dari

kampungnya di sebuah desa di Jawa Barat, ia menumpang mobil bak terbuka

yang kembali ke kota Kabupaten setelah mengantarkan barang-barang dagangan

seorang pemilik toko.

Beruntung sang sopir mau mengantarkannya sampai ke terminal. Dari terminal

ia menumpang bus jurusan Jakarta dengan gratis karena kebaikan sang

kondektur yang kasihan melihat Husein. Apalagi, seminggu menjelang Idul

Fitri seperti ini, bus yang ditumpanginya justru kosong jika menuju Jakarta.

Sampai di Kampung Rambutan, Husein langsung bertanya ke sana kemari

menanyakan orang-orang yang ditemuinya.

Ia mengira mencari orang di Jakarta sama mudahnya seperti mencari orang di

kampungnya. Ternyata, semua orang yang ditanyainya malah memarahi

kebodohannya yang mencari orang tuanya tanpa kejelasan alamat sedikit pun.

Husein tidak mau menyerah. Ia merasa sudah terlanjur sampai di Jakarta.

Pantang baginya kembali ke kampung halamannya. Apalagi ia merasa sudah

tidak ada lagi saudaranya di kampung halamannya. Untuk apa kembali lagi?

Sementara di ibukota ini, ia masih memiliki peluang untuk menemukan ibunya,

meskipun ia tidak tahu sampai kapan cita-citanya itu bisa terwujud.

Untuk mengganjal perutnya, ia berusaha mengamen dari satu bus ke bus

lainnya tanpa menggunakan alat musik apa pun. Ia mengamen hanya

bermodalkan suara dan tepuk tangannya saja. Jika malam menjelang, ia

mencari tempat tidur di pinggir-pinggir toko atau terminal. Beruntung ia

belum pernah dijahili oleh para preman.

Dan pada hari kelima kedatangannya di Jakarta, Idul Fitri pun tiba.

Suara orang ramai keluar dari masjid menyadarkan lamunan Husein. Anak-anak

seusianya berlarian dengan baju baru. Sebagian lainnya bergandengan tangan

dengan ibu bapaknya. Tiba-tiba Husein kembali teringat ibu bapaknya. Wajah

neneknya juga berkelebat di benaknya. Tanpa disadari, setetes air hangat

terbit di sudut kelopak matanya. Ia benar-benar merindukan orang-orang

yang dicintainya itu.

Ternyata, tanpa ia sadari, sepasang suami isteri yang mobilnya harus antri

keluar dari gerbang masjid, memperhatikan tingkah lakunya. Mereka trenyuh

menyaksikan seorang anak yang berwajah polos dengan penampilan kusut

tampak melamun menerawang denga air mata yang tak mampu ditahan. Mereka

tidak bisa membayangkan bagaimana jika nasib serupa menimpa anak-anak

mereka, meskipun sampai saat ini mereka belum juga dikaruniai seorang anak.

Suasana gerbang masjid yang semrawut membuat mobil pasangan yang sudah

tujuh tahun belum dikaruniai anak ini tidak bisa bergerak. Entah apa yang

menggerakkan hati wanita itu, ketika tiba-tiba ia membuka pintu mobil.

Sejenak ia menatap wajah suaminya. Mata sang suami tampak memberi isyarat

kalau ia menyetujui tindakan isterinya.

Sang isteri bergegas menghampiri Husein yang hendak bersiap pergi

meninggalkan tempat itu. Sedikit gugup dan agak kesulitan untuk memulai

menyapa Husein, perempuan yang sudah lama merindukan hadirnya seorang anak

dalam rumah tangganya itu, akhirnya memberanikan diri menuruti naluri rasa

sayangnya menyapa Husein.

"Ibumu dimana?" tanya perempuan itu. Husein terkejut bukan kepalang. Ia

tidak mengira kalau perempuan itu ternyata menyapanya. Padahal, ia belum

sempat menyeka air matanya.

Husein tidak mampu menjawab pertanyaan lembut itu. Ia seolah menemukan

kelembutan seorang ibu yang begitu lama dirindukannya. Ia hanya mampu

menggeleng karena air matanya semakin deras mengucur di pipi.

"Dimana ibumu?" tanya wanita itu lagi.

Husein berusaha keras melawan perasaannya, tetapi ia tidak mampu.

Berkali-kali ia mencoba mengusap air matanya, tetapi air bening itu seolah

tumpah begitu saja, tak mampu dibendungnya.

Perempuan itu tampaknya semakin penasaran sekaligus merasa kasihan kepada

Husein. Ia segera membungkuk, lalu duduk berjongkok agar bisa lebih dekat

lagi dengan anak malang itu. Diberanikan dirinya untuk menyentuh kepala

Husein. Lalu ia mengusapnya perlahan-lahan.

"Siapa namamu?" tanya wanita itu sambil menatap wajah Husein. Wanita itu

melihat kepolosan di mata anak itu, juga duka yang begitu dalam. Tampaknya

ia bisa membaca kepedihan dan duka Husein.

Mendapat perlakuan penuh kasih seperti itu, Husein semakin haru. Ia tidak

habis pikir. Betapa tidak, hampir satu minggu ia menjelajah ibukota

mencari ibunya, tetapi tak ada satu orang pun yang bersikap baik padanya,

apalagi menunjukkan perhatian yang begitu besar seperti wanita ini.

Sambil mengusap air matanya, ia mencoba memandang wanita itu. Wanita itu

masih memandangnya dengan tatapan penuh kasih seorang ibu. Aneh, tiba-tiba

perasaan haru yang besar merayap di hati Husein. Ia seolah merasakan kembali

tatapan dan kasih sayang ibunya yang sudah lama tidak dirasakannya. Tanpa

sadar, ia memeluk wanita itu, seolah memeluk ibunya sendiri yang begitu

lama tidak pernah mendekapnya. Air mata pun semakin deras mengalir dari

pipinya membasahi busana Muslimah wanita itu.

Wanita itu segera menyambutnya. Ia mengelus punggung anak malang itu.

Tanpa terasa, air matanya ikut menitik dan jatuh di pipinya. Ia bisa

merasakan kesedihan dan kerinduan seorang anak yang mendambakan kehangatan

orang tuanya. Perlahan ia lepaskan pelukannya dan dipegangnya pundak

Husein dengan lembut.

"Kamu tinggal dimana?" tanya wanita itu penuh harap.

Matanya benar-benar menyelidik, berharap Husein segera menjawabnya,

saya tidak punya rumah di sini. Saya mencari ibu. Katanya ibu ke

Jakarta,"jawab Husein.

"Dimana tinggalnya?" tanya wanita itu lagi.

Husein menggeleng, tetapi kemudia ia berucap, "Sudah hampir setahun ibu

pergi. Saya tidak tahu kemana. Kata nenek, ibu dibawa bapak tiri saya ke

Jakarta. Jadi saya pergi ke Jakarta. "Dimana nenekmu?" tanya wanita itu.

"Nenek meninggal satu minggu yang lalu di kampung. Saya, saya tinggal

sendiri. Bapak sudah lama pergi. Bapak kawin lagi. Saya tidak tahu

dimana," cerita Husein.

Mendengar pengakuan polos Husein, wanita itu semakin terharu. Naluri

keibuannya yang lembut membuatnya tak mampu menahan tetesan air bening

yang perlahan merambat di pipinya. Suaminya yang sejak tadi menunggu di

mobil yang sudah menepi, akhirnya turun juga. Ia bisa melihat keharuan di

mata isterinya, didekatinya isterinya sambil berjongkok memandang Husein.

"Maukah kamu menganggap saya ibumu?" tanya wanita itu.

Husein tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mampu memandang sebentar

sepasang suami isteri yang menatapnya penuh haru dan kasih. Ia

membayangkan, betapa bahagianya jika dua orang di depannya itu adalah ayah

dan ibunya, dua orang yang begitu dirindukannya.

"Maukah engkau tinggal bersama kami? Anggaplah kami orang tuamu," ujar

wanita itu dengan suara sedikit bergetar. Husein semakin terharu. Perlahan

ia tegakkan kepalanya yang sejak tadi lebih banyak tertunduk.

Mata polosnya menatap sepasang suami isteri di depannya dengan penuh tanya.

"Ikutlah dengan kami," tiba-tiba suami perempuan itu ikut bicara. Ia

memegang bahu Husein. Lagi-lagi Husein tidak mampu menahan harunya. Ia

rebahkan wajahnya di bahu lelaki itu. Air matanya belum juga reda. Isteri

lelaki itu kembali mengusap kepala Husein.

Jangan takut, Nak. Meskipun orang tuamu belum engkau temukan, kami

bersedia menjadi pengganti mereka. Jadilah anak angkat kami," bujuk isterinya lagi.

Suami wanita itu mengangkat kepala Husein dan kembali memandangnya dengan

penuh rasa sayang. Sorot matanya menunjukkan betapa ia benar-benar ingin

mengajak Husein menjadi bagian dari keluarganya.

"Ikutlah dengan kami. Jadilah anak angkat kami," ucap lelaki itu sambil

memegang tangan kanan Husein. Isterinya pun segera berdiri dan memegang

tangan kiri Husein.

Tanpa bisa menolak lagi, Husein pun mengikuti kedua pasangan suami isteri

itu menuju mobil mereka. Begitu mobil dibuka, Husein berhenti sebentar. Ia

ragu-ragu. "Tak apa. Masuklah! Anggaplah kami orang tuamu!" ujar si suami.

Setelah Husein masuk, mobil pun segera pergi diikuti tatapan jamaah lain

yang tampak keheranan.

Sejak saat itu, Husein tinggal di rumah pasangan suami isteri tadi. Ia

dianggap anak oleh mereka. Tapi, Husein tetap tidak menyerah. Ia terus

berusaha menemukan kedua orang tuanya meskipun sampai hari ini, setelah

satu tahun kedatangannya di ibukota, usahanya tetap sia-sia.

Husein hanyalah salah satu contoh dari anak-anak yatim yang masih

beruntung karena masih ada orang yang mau mengasihinya. Masih banyak

anak-anak kita yang berkeliaran di jalan-jalan tanpa seorang pun yang

peduli apalagi melindungi dan mengasihi mereka. Semoga di hari yang fitri

nanti kita bisa berbagi kebahagiaan kepada mereka yang kurang beruntung,

terutama anak-anak yatim di sekitar kita.

Amiin.

Hidayah, Intisari Islam)

TUJUH PINTU NERAKA

Saudaraku seiman seperjuangan,

insya Allah artikel ini sangat baik sekali buat pengingat

agar tidak dilalaikan oleh nikmatnya dunia

Kalau perlu dicetak, dan tempel di kamar sehingga kita dan keluarga bisa sering membacanya.

Semoga kita dan keluarga diberi kekuatan Allah SWT untuk bisa selamat dalam menempuh

ujian hidup yang sangat berat ini. Amin.

TUJUH PINTU NERAKA

Fiqih Quran & Hadist Oleh : Redaksi 11 Aug, 05 - 2:00 am

“Neraka mempunyai tujuh pintu, untuk masing-masing pintu di huni (sekelompok pendosa yang ditentukan)” (Qs al Hijr :44)

Diriwayatkan dalam Anwar Nu'maniyah dan Biharul Anwar bahwa ketika Jibril turun membawa ayat di atas tadi, Nabi saww memintanya untuk menjelaskan kondisi neraka. Jibril menjawab: "Wahai Nabi Allah, sesungguhnya di dalam neraka ada tujuh pintu, jarak antara masing-masing pintu sejauh tujuh puluh tahun, dan setiap pintu lebih panas dari pintu yang lain, nama-nama pintu tersebut adalah:

1. Hawiyah (arti harfiahnya: jurang), pintu ini untuk kaum munafik dan kafir.

2. Jahim, pintu ini untuk kaum musyrik yang menyekutukan Allah.

3. Pintu ketiga untuk kaum sabian (penyembah api).

4. Lazza, pintu ini untuk setan dan para pengikutnya serta para penyembah api.

5. Huthamah (menghancurkan hingga berkeping-keping), pintu ini untuk kaum Yahudi.

6. Sa'ir (arti harfiahnya: api yang menyala-nyala), pintu ini untuk kaum kafir.

Tatkala sampai pada penjelasan pintu yang ketujuh, Jibril terdiam. Nabi saww maminta Ia untuk menjelaskan pintu yang ketujuh, Jibril pun menjawab: "Pintu ini untuk umatmu yang angkuh"; yang mati tanpa menyesali dosa-dosa mereka.



Lalu, Nabi saww mengangkat kepalanya dan begitu sedih, sampai beliau pingsan. Ketika siuman beliau berkata: “Wahai jibril, sesunggguhnya engkau telah menyebabkan kesusahanku dua kali lipat. Akankah umatku masuk Neraka?"

Kemudian Nabi saww mulai menangis. Setelah kejadian itu, beliau tidak berbicara dengan siapapun selama beberapa hari, dan ketika sholat beliau menangis dengan tangisan yang sangat memilukan. Karena tangisannya ini, semua sahabat ikut menangis, kemudian mereka bertanya: “Mengapa beliau begitu berduka?” Namun beliau tidak menjawab.

Saat itu, Imam Ali as sedang pergi melaksanakan satu misi, maka para sahabat pergi mengahadap sang wanita cahaya penghulu wanita syurga, Sayyidah Fathimah as, mereka mendatangi rumah suci beliau, dan pada saat itu Sayyidah Fatimah as sedang mengasah gerinda sambil membaca ayat “Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal” (al-A'la:17). Para sahabat pun menceritakan keadaan ayahnya (Rasulullah saww). Setelah mendengar semua itu, Sayyidah Fatimah as bangkit lalu mengenakan jubahnya (cadur) yang memiliki dua belas tambalan yang dijahit dengan daun pohon korma. Salman al-Farisi yang hadir bersama orang-orang ini terusik hatinya setelah melihat jubah Sayyidah Fathimah as, lalu berkata: " Aduhai! Sementara putri-putri kaisar dan kisra (penguasa Persia kuno) duduk di atas singgasana emas, putri Nabi ini tidak mempunyai pakaian yang layak untuk dipakai”.

Ketika Sayyidah Fathimah as sampai di hadapan sang ayah, Ia melihat keadaannya yang menyedihkan dan juga keadaan para sahabatnya, kemudian ia berkata: "Wahai Ayahanda, Salman terkejut setelah melihat jubahku yang sudah penuh dengan robekan, aku bersumpah, demi tuhan yang telah memilihmu menjadi Nabi, sejak lima tahun lalu kami hanya memiliki satu helai pakaian di rumah kami, pada waktu siang kami memberi makan unta-unta dan pada waktu malam kami beristirahat, anak-anak kami tidur beralaskan kulit dengan daun-daun kering pohon kurma. Nabi berpaling ke arah Salman dan berkata "Apakah engkau memperhatikan dan mengambil pelajaran?”

Sayyidah Fathimah az-Zahra melihat -karena tangisan yang tidak terhenti- wajah Nabi menjadi pucat dan pipinya menjadi cekung. Sebagaimana yang di ceritakan oleh Kasyfi, bahwa bumi tempat beliau duduk telah menjadi basah dengan air mata. Sayyidah Fathimah as berkata kepada ayahnya, semoga hidupku menjadi tebusanmu, “Mengapa Ayahanda menangis?” Nabi saww menjawab, "Ya Fathimah, mengapa aku tidak boleh menangis?, karena sesungguhnya Jibril telah menyampaikan kepadaku sebuah ayat yang menggambarkan kondisi neraka. Neraka mempunyai tujuh pintu, dan pintu-pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu celah api. Pada setiap celah ada tujuh puluh ribu peti mati dari api, dan setiap peti berisi tujuh puluh ribu jenis azab”.

Ketika Sayyidah Fathimah mendengar semua ini, beliau berseru, "Sesungguhnya orang yang dimasukkan kedalam api ini pasti menemui ajal". Setelah mengatakan ini beliau pingsan. Ketika siuman, beliau as berkata, "Wahai yang terbaik dari segala mahluk, siapakah yang patut mendapat azab yang seperti itu?” Nabi saww menjawab, "Umatku yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak memelihara sholat, dan azab ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan azab-azab yang lainya.



Setelah mendengar ucapan ini setiap sahabat Nabi saww menangis dan meratap, "Derita perjalanan alam akhirat sangat jauh, sedangkan perbekalan sangat sedikit". Sementara sebagian lagi menangis dan meratap, "Aduhai seandainya ibuku tidak melahirkanku, maka aku tidak akan mendengar tentang azab ini", Ammar bin Yasir berkata, "Andaikan aku seekor burung, tentu aku tidak akan ditahan (di hari kiamat) untuk di hisab”. Bilal yang tidak hadir di sana datang kepada Salman dan bertanya sebab-sebab duka cita itu, Salman menjawab, "Celakalah engkau dan aku, sesungguhnya kita akan mendapat pakaian dari api, sebagai pengganti dari pakaian katun ini dan kita akan diberi makan dengan zaqqum (pohon beracun di Neraka). Masihkah kita memandang remeh ancaman siksa neraka? Atau biarkan diri kita lalai dan sibuk dengan kesenangan dunia yang sementara ini? [islamalternatif.com]

Oleh: Ahmad Fahmi Al-Jufri

Hidayatullah.com