Abul al Walid Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Rusydi, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ibnu Rusydi atau Averrous, merupakan seorang ilmuwan muslim yang sangat berpengaruh pada abad ke-12 dan beberapa abad berikutnya. Ia adalah seorang filosof yang telah berjasa mengintegrasikan Islam dengan tradisi pemikiran Yunani.
Ibnu Rusydi dilahirkan pada tahun 1126 M di Qurtubah (Cordoba) dari sebuah keluarga bangsawan terkemuka. Ayahnya adalah seorang ahli hukum yang cukup berpengaruh di Cordoba, dan banyak pula saudaranya yang menduduki posisi penting di pemerintahan. Latar belakang kelauarga tersebut sangat mempengaruhi proses pembentukan tingkat intelektualitasnya di kemudian hari.
Kebesaran Ibnu Rusydi sebagai seorang pemikir sangat dipengaruhi oleh zeitgeist atau jiwa zamannya. Abad ke-12 dan beberapa abad sebelumnya merupakan zaman keemasan bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Dunia Islam, yang berpusat di Semenanjung Andalusia (Spanyol) di bawah pemerintahan Dinasti Abasiyah. Para penguasa muslim pada masa itu mendukung sekali perkembangan ilmu pengetahuan, bahkan mereka sering memerintahkan para ilmuwan untuk menggali kembali warisan intelektual Yunani yang masih tersisa, sehingga nama-nama ilmuwan besar Yunani seperti Aristoteles, Plato, Phitagoras, ataupun Euclides dengan karya-karyanya masih tetap terpelihara sampai sekarang.Liku-liku perjalanan hidup pemikir besar ini sangatlah menarik. Ibnu Rusydi dapat digolongkan sebagai seorang ilmuwan yang komplit. Selain sebagai seorang ahli filsafat, ia juga dikenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang kedokteran, sastra, logika, ilmu-ilmu pasti, di samping sangat menguasai pula pengetahuan keislaman, khususnya dalam tafsir Al Qur’an dan Hadits ataupun dalam bidang hukum dan fikih. Bahkan karya terbesarnya dalam bidang kedokteran, yaitu Al Kuliyat Fil-Tibb atau (Hal-Hal yang Umum tentang Ilmu Pengobatan) telah menjadi rujukan utama dalam bidang kedokteran.
Kecerdasan yang luar biasa dan pemahamannya yang mendalam dalam banyak disiplin ilmu, menyebabkan ia diangkat menjadi kepala qadi atau hakim agung Cordoba, jabatan yang pernah dipegang oleh kakeknya pada masa pemerintahan Dinasti al Murabitun di Afrika Utara.Posisi yang prestisius dan tentunya diimpikan banyak orang. Posisi tersebut ia pegang pada masa pemerintahan Khalihaf Abu Ya’kub Yusuf dan anaknya Khalifah Abu Yusuf.
Hal terpenting dari kiprah Ibnu Rusydi dalam bidang ilmu pengetahuan adalah usahanya untuk menerjemahkan dan melengkapi karya-karya pemikir Yunani, terutama karya Aristoteles dan Plato, yang mempunyai pengaruh selama berabad-abad lamanya. Antara tahun 1169-1195, Ibnu Rusydi menulis satu segi komentar terhadap karya-karya Aristoteles, seperti De Organon, De Anima, Phiysica, Metaphisica, De Partibus Animalia, Parna Naturalisi, Metodologica, Rhetorica, dan Nichomachean Ethick. Semua komentarnya tergabung dalam sebuah versi Latin melengkapi karya Aristoteles. Komentar-komentarnya sangat berpengaruh terhadap pembentukan tradisi intelektual kaum Yahudi dan Nasrani.
Analisanya telah mampu menghadirkan secara lengkap pemikiran Aristoteles. Ia pun melengkapi telaahnya dengan menggunanakan komentar-komentar klasik dari Themisius, Alexander of Aphiordisius, al Farabi dengan Falasifah-nya, dan komentar Ibnu Sina. Komentarnya terhadap percobaan Aristoteles mengenai ilmu-ilmu alam, memperlihatkan kemampuan luar biasa dalam menghasilkan sebuah observasi.
Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah Belanda menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS. Jabatan Presiden Republik Indonesia diserahkan kepada Mr Assaat, yang kemudian dikenal sebagai RI Jawa-Yogya. Namun karena tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara kesatuan, maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali berubah menjadi Republik Indonesia dan Presiden Soekarno menjadi Presiden RI. Mandat Mr Assaat sebagai pemangku jabatan Presiden RI diserahkan kembali kepada Ir. Soekarno. Resminya kedudukan Presiden Soekarno adalah presiden konstitusional, tetapi pada kenyataannya kebijakan pemerintah dilakukan setelah berkonsultasi dengannya.
Mitos Dwitunggal Soekarno-Hatta cukup populer dan lebih kuat dikalangan rakyat dibandingkan terhadap kepala pemerintahan yakni perdana menteri. Jatuh bangunnya kabinet yang terkenal sebagai "kabinet seumur jagung" membuat Presiden Soekarno kurang mempercayai sistem multipartai, bahkan menyebutnya sebagai "penyakit kepartaian". Tak jarang, ia juga ikut turun tangan menengahi konflik-konflik di tubuh militer yang juga berimbas pada jatuh bangunnya kabinet. Seperti peristiwa 17 Oktober 1952 dan Peristiwa di kalangan Angkatan Udara.
Soekarno dan John F Kennedy
Presiden Soekarno juga banyak memberikan gagasan-gagasan di dunia Internasional. Keprihatinannya terhadap nasib bangsa Asia-Afrika, masih belum merdeka, belum mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri, menyebabkan presiden Soekarno, pada tahun 1955, mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila. Bandung dikenal sebagai Ibu Kota Asia-Afrika. Ketimpangan dan konflik akibat "bom waktu" yang ditinggalkan negara-negara barat yang dicap masih mementingkan imperialisme dan kolonialisme, ketimpangan dan kekhawatiran akan munculnya perang nuklir yang merubah peradaban, ketidakadilan badan-badan dunia internasional dalam pemecahan konflik juga menjadi perhatiannya. Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma) dan Jawaharlal Nehru (India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok. Berkat jasanya itu, banyak negara-negara Asia Afrika yang memperoleh kemerdekaannya. Namun sayangnya, masih banyak pula yang mengalami konflik berkepanjangan sampai saat ini karena ketidakadilan dalam pemecahan masalah, yang masih dikuasai negara-negara kuat atau adikuasa. Berkat jasa ini pula, banyak penduduk dari kawasan Asia Afrika yang tidak lupa akan Soekarno bila ingat atau mengenal akan Indonesia.
Soekarno dan Jawaharlal Nehru
Guna menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif dalam dunia internasional, Presiden Soekarno mengunjungi berbagai negara dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara. Di antaranya adalah Nikita Khruschev (Uni Soviet), John Fitzgerald Kennedy (Amerika Serikat), Fidel Castro (Kuba), Mao Tse Tung (RRC).
Masa-masa kejatuhan Soekarno dimulai sejak ia "bercerai" dengan Wakil Presiden Moh. Hatta, pada tahun 1956, akibat pengunduran diri Hatta dari kancah perpolitikan Indonesia. Ditambah dengan sejumlah pemberontakan separatis yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia, dan puncaknya, pemberontakan G 30 S, membuat Soekarno di dalam masa jabatannya tidak dapat "memenuhi" cita-cita bangsa Indonesia yang makmur dan sejahtera.
Soekarno sendiri wafat pada tanggal 21 Juni 1970 di Wisma Yaso, Jakarta, setelah mengalami pengucilan oleh penggantinya Soeharto. Jenazahnya dikebumikan di Kota Blitar, Jawa Timur, dan kini menjadi ikon kota tersebut, karena setiap tahunnya dikunjungi ratusan ribu hingga jutaan wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Terutama pada saat penyelenggaraan Haul Bung Karno.
Pada tanggal 19 Juni 2008, Pemerintah Kuba menerbitkan perangko yang bergambar Soekarno dan presiden Kuba Fidel Castro.[2] Penerbitan itu bersamaan dengan ulang tahun ke-80 Fidel Castro dan peringatan "kunjungan Presiden Indonesia, Soekarno, ke Kuba".
r. Soekarno1 (ER, EYD: Sukarno) (lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun) adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945 - 1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah penggali Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.
Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial, yang isinya - berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan darat - menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan. Supersemar menjadi dasar Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya yang duduk di parlemen. Setelah pertanggung jawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada sidang umum ke empat tahun 1967, Presiden Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa MPRS di tahun yang sama dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden Republik Indonesia.
Soekarno dilahirkan dengan nama Kusno Sosrodihardjo. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru di Surabaya, Jawa. Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai berasal dari Buleleng, Bali [1].
Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya di Tulungagung, Jawa Timur. Pada usia 14 tahun, seorang kawan bapaknya yang bernama Oemar Said Tjokroaminoto mengajak Soekarno tinggal di Surabaya dan disekolahkan ke Hoogere Burger School (H.B.S.) di sana sambil mengaji di tempat Tjokroaminoto. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu. Soekarno kemudian bergabung dengan organisasi Jong Java (Pemuda Jawa).
Tamat H.B.S. tahun 1920, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung, dan tamat pada tahun 1925. Saat di Bandung, Soekarno berinteraksi dengan Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.
Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927. Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada bulan Desember 1929, dan memunculkan pledoinya yang fenomenal: Indonesia Menggugat, hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.
Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hassan.
Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu. Soekarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.
Pada awal masa penjajahan Jepang (1942-1945), pemerintah Jepang sempat tidak memperhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia terutama untuk "mengamankan" keberadaannya di Indonesia. Ini terlihat pada Gerakan 3A dengan tokohnya Shimizu dan Mr. Syamsuddin yang kurang begitu populer.
Namun akhirnya, pemerintahan pendudukan Jepang memperhatikan dan sekaligus memanfaatkan tokoh tokoh Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta dan lain-lain dalam setiap organisasi-organisasi dan lembaga lembaga untuk menarik hati penduduk Indonesia. Disebutkan dalam berbagai organisasi seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat (Putera), BPUPKI dan PPKI, tokoh tokoh seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, K.H Mas Mansyur dan lain lainnya disebut-sebut dan terlihat begitu aktif. Dan akhirnya tokoh-tokoh nasional bekerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang melakukan gerakan bawah tanah seperti Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.
Soekarno diantara Pemimpin Dunia
Presiden Soekarno sendiri, saat pidato pembukaan menjelang pembacaan teks proklamasi kemerdekaan, mengatakan bahwa meski sebenarnya kita bekerjasama dengan Jepang sebenarnya kita percaya dan yakin serta mengandalkan kekuatan sendiri.
Ia aktif dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, diantaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan dasar dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan. Ia sempat dibujuk untuk menyingkir ke Rengasdengklok Peristiwa Rengasdengklok.
Pada tahun 1943, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundang tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta dan Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima langsung oleh Kaisar Hirohito. Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga tokoh Indonesia tersebut. Penganugerahan Bintang itu membuat pemerintahan pendudukan Jepang terkejut, karena hal itu berarti bahwa ketiga tokoh Indonesia itu dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri. Pada bulan Agustus 1945, ia diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara di Dalat Vietnam yang kemudian menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah urusan rakyat Indonesia sendiri.
Namun keterlibatannya dalam badan-badan organisasi bentukan Jepang membuat Soekarno dituduh oleh Belanda bekerja sama dengan Jepang,antara lain dalam kasus romusha.
Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional mulai mempersiapkan diri menjelang Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI,Panitia Kecil yang terdiri dari delapan orang (resmi), Panitia Kecil yang terdiri dari sembilan orang/Panitia Sembilan (yang menghasilkan Piagam Jakarta) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia PPKI, Soekarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Setelah menemui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945; Soekarno dan Mohammad Hatta dibujuk oleh para pemuda untuk menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air Peta Rengasdengklok. Tokoh pemuda yang membujuk antara lain Soekarni, Wikana, Singgih serta Chairul Saleh. Para pemuda menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, karena di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan. Ini disebabkan karena Jepang sudah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun Soekarno, Hatta dan para tokoh menolak dengan alasan menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang. Alasan lain yang berkembang adalah Soekarno menetapkan moment tepat untuk kemerdekaan Republik Indonesia yakni dipilihnya tanggal 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan suci kaum muslim yang diyakini merupakan bulan turunnya wahyu pertama kaum muslimin kepada Nabi Muhammad SAW yakni Al Qur-an. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan menjadi presiden dan wakil presiden dikukuhkan oleh KNIP.Pada tanggal 19 September 1945 kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan tanpa pertumpahan darah peristiwa Lapangan Ikada dimana 200.000 rakyat Jakarta akan bentrok dengan pasukan Jepang yang masih bersenjata lengkap.
Pada saat kedatangan Sekutu (AFNEI) yang dipimpin oleh Letjen. Sir Phillip Christison, Christison akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Soekarno. Presiden Soekarno juga berusaha menyelesaikan krisis di Surabaya. Namun akibat provokasi yang dilancarkan pasukan NICA (Belanda) yang membonceng Sekutu. (dibawah Inggris) meledaklah Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya dan gugurnya Brigadir Jendral A.W.S Mallaby.
Karena banyak provokasi di Jakarta pada waktu itu, Presiden Soekarno akhirnya memindahkan Ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Diikuti wakil presiden dan pejabat tinggi negara lainnya.
Kedudukan Presiden Soekarno menurut UUD 1945 adalah kedudukan Presiden selaku kepala pemerintahan dan kepala negara (presidensiil/single executive). Selama revolusi kemerdekaan,sistem pemerintahan berubah menjadi semi-presidensiil/double executive. Presiden Soekarno sebagai Kepala Negara dan Sutan Syahrir sebagai Perdana Menteri/Kepala Pemerintahan. Hal itu terjadi karena adanya maklumat wakil presiden No X, dan maklumat pemerintah bulan November 1945 tentang partai politik. Hal ini ditempuh agar Republik Indonesia dianggap negara yang lebih demokratis.
Meski sistem pemerintahan berubah, pada saat revolusi kemerdekaan, kedudukan Presiden Soekarno tetap paling penting, terutama dalam menghadapi Peristiwa Madiun 1948 serta saat Agresi Militer Belanda II yang menyebabkan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan sejumlah pejabat tinggi negara ditahan Belanda. Meskipun sudah ada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan ketua Sjafruddin Prawiranegara, tetapi pada kenyataannya dunia internasional dan situasi dalam negeri tetap mengakui bahwa Soekarno-Hatta adalah pemimpin Indonesia yang sesungguhnya, hanya kebijakannya yang dapat menyelesaikan sengketa Indonesia-Belanda..
Lelaki ini identik dengan kacamata bulat dan kain putih melilit tubuhnya yang kurus kering, kepala botak serta kaki yang tak beralas. Begitu sederhana. Namun siapapun tak akan sangsi bahwa dialah bapak perdamaian abad 20. Mohandas Karamchand Gandhi (dalam bahasa sansekerta) berarti “berjiwa besar” adalah seorang pemimpin spiritual dan tokoh politik tersohor dari India. Beliau lahir pada 2 Oktober 1969, di Porbandar, sebuah negara bagian Gujarat India. Keluarganya dari kelas pertengahan Kasta Vaishya atau Bania. Beberapa dari anggota keluarganya bekerja pada pihak pemerintah. Ayahnya, Karamchand Gandhi alias Kaba Gandhi merupakan anggota dari pengadilan Rajasthanik yang pada saat itu berpengaruh dalam menyelesaikan perselisihan antara pemuka dan kaum kerabatnya. Ibunya bernama Putlibiai, adalah seorang yang lemah lembut, hindu yang taat, dan menjadi sumber inspirasi bagi beliau. Gandhi merupakan anak paling bungsu dari empat bersaudara, tiga laki-laki dan satu perempuan.
Semasa kanak-kanaknya dihabiskan di Porbandar, namun pada umur 7 tahun beliau pindah ke Rajkot karena ayahnya dipindahkantugaskan. Semasa Gandhi bersekolah di sekolah rendah, beliau tidak menunjukkan pertanda akan menjadi seorang tokoh yang terkenal. Di sekolah, Gandhi dianggap sebagai pelajar yang “mediocre” atau sederhana dan merupakan seorang yang sangat pemalu, kecerdasan lamban, serta ingatan lemah. Namun, beliau menunjukkan sifatnya yang berintegriti, yakni enggan unutk meniru orang lain dan berbuat curang. Menurut adat orang India pada waktu itu, beliau dinikahkan dalam usia yang terbilang sangat muda, yakni 13 tahun kepada Kasturbay, gadis yang sebaya dengannya.
Saat remaja, yakni usia 18 tahun, Gandhi pergi ke Inggris untuk melanjutkan sekolahnya di Southampton menekuni bidang hukum dan undang-undang. Selain itu, beliau juga tertarik dalam bidang keagamaan. Berbagai macam kitab dan buku-buku keagamaan Hindu, Kristen, Yahudi, dan Islam telah menjadi bahan bacaannya. Pada tahun1891, beliau lulus ujian dan pulang ke India sebagai seorang peguam (pembela / pengacara). Semasa di Bombay, beliaumencoba nasib sebagai seorang pegaum tapi gagal. Lalu beliau pergi ke Afrika Selatan untuk membela seorang klien. Di Afrika Selatan, beliau mendapatkan perlakuan diskriminasi ras yang sangat buruk bernama apartheid. Para pekerja dari India yang dibawa ke Afrika Selatan di akhir abad 19 banyak dipekerjakan di industri gula. Saat ke sana Gandhi dikejutkan oleh perlakuan rasis yang mereka terima di Afrika Selatan yang mendorongnya untuk mulai mengampanyekan hak sipil mereka. Gandhi berusaha melakukan pembelaan bagi warga India. Bukannya didengar Gandhi malah mendapatkan serangan dan pukulan dari orang-orang kulit putih Afrika Selatan. Peristiwa ini merupakan tamparan yang sangat hebat bagi Gandhi dan memutuskan untuk menjadi aktivis politik agar dapat mengubah hukum-hukum yang diskriminatif tersebut. Gandhi pun membentuk sebuah gerakan anti kekerasan.
Tahun 1906 Gandhi memulai gerakan perlawanan pasifnya melawan hukum yang melarang warga kulit hitam Afrika, “kulit berwarna” serta India untuk bepergian tanpa identitas. Dia memimpin orang-orang India untuk berdemonstrasi serta mengorganisir protes mogok kerja yang berhasil menarik simpati ribuan orang. Bolak balik ia masuk penjara, tapi perjuangannya tak pernah surut karena selain strategi perlawanan pasif dan nonkooperasinya Gandhi juga memegang kuat prinsip perlawanannya yang lain yaitu satyagraha. Dalam bahasa Sansakerta kata ini berarti kebenaran dan keteguhan.
Akhirnya pada tahun 1914 pemerintah Afrika Selatan, di bawah tekanan pemerintahan Inggris dan India menerima sebuah paket reformasi yang dinegosiasikan oleh Gandhi dan pejabat Afrika Selatan yaitu Jenderal Jan Christian Smuts. Setahun kemudian, 1915 Gandhi kembali ke India. Ketika kembali ke India, dia membantu dalam proses kemerdekaan India dari jajahan Inggris; hal ini memberikan inspirasi bagi rakyat di koloni-koloni lainnya agar berjuang mendapatkan kemerdekaannya dan memecah Kemaharajaan Britania untuk kemudian membentuk Persemakmuran. Gandhi menerapkan satyagraha dan menyampanyekan perlawanan pasif terhadap Inggris. Gayung bersambut, ribuan rakyat India ikut dalam aksi Gandhi.
Memasuki tahun 1920 Gandhi mengkampanyekan gerakan terorganisir nonkooperatif. Dia meminta rakyat India memboikot institusi serta produk Inggris, mengundurkan diri dari kantor publik, mengeluarkan anak-anak mereka dari sekolah negeri, menolak membayar pajak, dan mengacuhkan kehormatan serta kewarganegaraan Inggris. Di seantero India jalan-jalan dipenuhi oleh rakyat yang berjongkok dan tidak mau bangun meski dipukuli polisi. Karena aksi ini Gandhi ditahan, tetapi Inggris terpaksa segera membebaskannya.
Aspek ekonomi merupakan bagian penting dari gerakan swaraj (pemerintahan sendiri) yang dipelopori Gandhi. Gandhi menganggap eksploitasi masyarakat desa oleh industrialis Inggris telah menyebabkan kemiskinan luar biasa dan kehancuran industri rumahan India. Untuk mengentaskan kemiskinanGandhi menoleh pada industri rakyat. Di rumahnya, tahun 1920, ia mulai menggunakan roda pintal sebagai simbol kembalinya kehidupan desa yang sederhana dan dimulainya industri asal India. Boikot total terhadap barang-barang Inggris pun dilakukan. Gandhi juga menyuarakan ahimsa, gerakan antikekerasan yang dipetiknya dari ajaran Hindu. Di sisi lain ia selalu menganjurkan penyatuan Hindu-Muslim. Dia memimpin gerakan dengan menjadi teladan. Gandhi hidup bak pertapa, menjalani kehidupan spiritual dengan sembahyang, puasa, dan meditasi. Ia menolak keduniawian, memakai cawat dan syal seperti orang kebanyakan, makan sayur mayur, jus buah, dan susu kambing. Karena itulah masyarakat India mulai memanggilnya Mahatma atau Great Soul, jiwa yang agung.
Tahun 1921, Partai Kongres memberi Gandhi kekuasaan eksekutif sepenuhnya. Waktu itu konfrontasi antara demonstran India dan penguasa Inggris tetap berlanjut, warga melakukan aksi perlawanan. Tahun 1922 Gandhi dipenjara dan keluar dua tahun kemudian. . Ia mendirikan ashram (komunitas), mendirikan sebuah majalah, dan bekerja untuk membantu masyarakat miskin pedesaan dan kasta Paria yang tak diakui dan didiskriminasi.
Tahun 1930 Gandhi mencetuskan aksi ketidakpatuhan warga yang meminta rakyat India untuk menolak membayar pajak, terutama pajak garam. 12 Maret 1930 dari Ahmedabad (ibukota Gujarat) Gandhi melakukan long march ke laut Arab di Dandi (dekat Surat di Gulf Cambay). Tujuannya membuat garam sendiri. Sepanjang 400 km satu demi satu warga berduyun-duyun mengikuti Gandhi, dari tanggal 12 Maret hingga 6 April. Ribuan orang berbaris. “Biarkan pemerintah menegakkan aturan, menggunakan senjata melawan kita, mengirim kita ke penjara, atau menggantung kita,” kata Gandhi selama dalam barisan. “Tapi besar arti hukuman? Coba dan hitunglah berapa banyak waktu yang dibutuhkan penguasa Inggris untuk menggantung 300 juta orang.” Pada bulan Mei Gandhi di penjara. Gandhi secara formal mundur dari politik pada tahun 1934. ia berkeliling India untuk memasyarakatkan ahimsa dan terus memerangi kemiskinan.
Dan setahun kemudian, setelah Perang Dunia II pecah, menjadi babak baru perjuangan kemerdekaan India. Pemerintah Inggris setuju memberi kemerdekaan kepada India asalkan dua kelompok nasionalis, Liga Muslim dan Partai Kongres, bisa mengatasi perbedaan mereka. Rakyat dari agama dan suku yang berbeda yang hidup di India kala itu yakin bahwa India perlu dipecah menjadi beberapa negara agar kelompok yang berbeda dapat mempunyai negara mereka sendiri. Banyak yang ingin agar para pemeluk agama Hindu dan Islam mempunyai negara sendiri. Gamdhi adalah seorang Hindu namun dia menyukai pemikiran-pemikiran dari agama-agama lain termasuk Islam dan Kristen. Dia percaya bahwa manusia dari segala agama harus mempunyai hak yang sama dan hidup bersama secara damai di dalam satu negara.
Pada tahun 1947, India menjadi merdeka dan pecah menjadi dua negara, India dan Pakistan. Hal ini tidak disetujui Gandhi. Gandhi terus mengampanyekan kepada kelompok Hindu dan Islam untuk hidup bersama dalam damai. Ketika kerusuhan melanda Kalkuta, Gandhi berpuasa sampai kerusuhan itu berhenti. Pada 13 Januari 1948 Gandhi mulai menjalankan puasa untuk perdamaian New Delhi.
Tanggal 30 Januari 1948 adalah hari bersejarah bagi India. Pada hari itu, New Delhi dipenuhi kerumunan orang. Mereka rela berdesak-desakan untuk mendengar pidato Mohandas Karamchad Gandhi. Di tengah membeludaknya penduduk India itu ada orang tua menyeruak, maju ke hadapan Gandhi sambil mengucapkan salam dan sembah. Gandhi membalasnya. Tapi, siapa sangka lelaki tersebut menembak Gandhi dengan tiga tembakan. Gandi tersungkur dan tewas di tengah kerumunan banyak orang. Pembunuhnnya adalah Nathuram Godse, seorang Hindu fanatik.
Kematian Gandhi meninggalkan banyak kenangan bagi masyarakat India dan dunia pada umumnya. Perjuangannya melawan Inggris adalah sokongan bagi masyarakat India yang tidak akan pernah terlupakan dan ajarannya sangat berarti bagi semua orang dan negara yang ingin mengubah ketidakadilan dan penindasan pada ranah keadilan dengan tanpa kekerasan dan anarki. Dengan ajarannya, Gandhi melakukan perlawanan tanpa mengenal lelah.
Pertama, ahimsa. Perjuangan melawan penindasan, kekerasan, dan segala bentuk diskriminasi dengan rasa cinta dan damai. Ghandi berjuang melawan kekejaman penjajah dengan berlandaskan pada spirit perdamaian. Meski para penjajah telah memperlakukan Gandhi dan pengikutnya secara keras, tapi Gandhi tetap berpegang teguh pada prinsip perdamaiannya. Ia membahasakan bentuk penolakannya tidak dalam bentuk anarki. Ia rela mogok makan, dan berjalan bermil-mil sebagai bentuk penentangan dan perlawanan terhadap rezim tirani. Bagi Gandhi apabila kekerasan dilawan kekerasan akan muncul kekerasan yang lebih lebar dan luas. Kekerasan baginya hanya bisa dilawan dengan perdamaian atau dalam bahasanya Wayan Sudane (2007) perlawanan dengan energi positif.
Kedua, satyagraha. Ajaran memegang teguh terhadap kebenaran. Ghandi dikenal sebagai teladan yang komit memegang teguh kebenaran. Prinsipnya tidak mudah goyah dan silau oleh gertakan dan cobaan yang menghalanginya. Bagi Gandhi jiwa seseorang akan tetap selamat di dunia apabila orang tersebut berjuang demi kebenaran. Dengan kepercayaan semacam itu, Gandhi, yang baginya sedang dalam posisi memperjuangkan kebenaran, tetap tidak pantang mundur meski halangan dan cobaan banyak mengadang.
Ketiga, swadesi. Ajaran untuk tetap mandiri. Gandhi dan para pengikutnya berusaha untuk mencukupi kebutuhannya sendiri dengan tanpa mengekor pada negara lain atau penjajah. Untuk menjadi mandiri, Gandhi menata terlebih dulu pola sistem perekonomian masyarakat. Ia sering mengajarkan kerajinan pada masyarakat. Bahkan Gandhi membuat garam sendiri dan menolak garam buatan Inggris. Ini adalah bentuk kemandirian dan bentuk ajaran untuk lebih mencintai produk sendiri ketimbang produk luar negeri.
Perjuangan yang dilandasi prinsip ajaran tersebut membuat Gandhi akan selalu dikenang dalam sepanjang sejarah. Bagaimanapun ajaran-ajaran Gandhi sangat berarti bagi berlangsungnya perdamaian India dan dunia pada umumnya. Itulah potret perjuangan Gandhi. Sebuah perjuangan melawan penindasan dan kekerasan dengan penuh rasa cinta, kesabaran, dan kerelaan untuk menanggung segala konsekuensinya.
Selain tokoh-tokoh perjuangan anti kekerasan, keadilan dan perdamaian di tingkat dunia, di Indonesia pun ajaran Gandhi menemukan lahan yang subur. Ibu Gedong Bagoes Oka, misalnya, menemukan inspirasi perjuangannya di dalam ajaran Gandhi. Ia mendirikan Ashram Gandhi di Candi Desa, Bali sebagai pusat pendidikan dan pengalaman ajaran-ajaran Gandhi tersebut.
Gandhi tidak pernah menerima penghargaan Nobel, meski dia dinominasikan lima kali antara 1937 dan 1948. beberapa dekade kemudian, hal ini disesali secara umum oleh pihak Komite Nobel. Komite Nobel menyelesaikannya dan menyampaikan penyesalan saat menganugerahkan Hadiah Nobel Perdamaian kepada Dalai Lama, tokoh perlawanan Tibet, tahun 1989. Komite mengatakan. Anugerah untuk Dalai Lama itu juga merupakan penghormatan kepada Mahatma Gandhi.
Sepanjang hidupnya, aktivitas Gandhi telah menarik sebagai komentar dan opini. Misalnya, sebagai penduduk Kerajaan Britania, Winston Churchill pernah berkata “Menyedihkan…melihat Mr.Gandhi, seorang pengacara Kuil Tengah yang menghasut, sekarang tampil sebagai seorang fakir yang tipenya umum di Timur, menaiki tangga Istana Viceregal dengan badan setengah-setengah.” Begitu juga dengan Albert Einstein yang berkomentar berikut mengenai Gandhi: “(Mungkin) para generasi berikut akan sulit mempercayai bahwa ada orang seperti ini yang pernah hidup di dunia ini.”
KARYA Mahatma Gandhi tidak terlupakan oleh generasi berikutnya. Cucunya, Arun Gandhi dan Rajhoman Gandhi dan bahkan anak cucunya, Tushar Gandhi, adalah aktivis-aktivis sosio-politik yang terlibat dalam mempromosikan non-kekerasan di seluurh dunia.